Catatan petualangan 11 hari (nenek dan kakek) menggunakan mobil:
Depok - Bali - Lombok - Surabaya - Jogya - Jatiwangi - Depok
Petualangan ini sebagai catatan bagi siapa saja yang mau berpetualang menggunakan mobil yang disulap jadi campervan dengan mencopot kursi tengah dan belakang diganti dengan kasur lipat sebagai kamar kami sehari-hari.
Mulai hari Sabtu, 4 Januari 2025
Berangkat Pukul 07:00 WIB dari Pamulang, Depok, Jawa Barat
Dimulai masuk tol Pamulang, Tangsel - Tol Cijago - Tol Cibitung - Tol Cipali hingga terus sampai ujung tol di Probolinggo, Jawa Timur
Istirahat makan siang pukul 12:40 WIB di di rest area 338 A PekalonganSampai di Ungaran pukul 15:55 WIB

Ungaran pukul 15:55 WIB
Sholat magrib di rest area . . . .
Istirahat tidur malam hingga subuh, mandi dan sholat di masjidnya di rest area Rest area 883 A yang tampaknya belum jadi karena jalannya masih tanah, posisinya sudah mau keluar tol Probolinggo.
Tiba di Probolinggo gak jauh keluar tol Probolinggo, isirahat sejenak di Alfamaret Situbondo, Jatim sejenak atur peta perjalanan menuju Pelabuhan ketapang di hp
Perjalanan Probolinggo-Banyuwangi kurang menarik dan membosankan, karena jalannya yang sempit serta banyak kendaraan besar ditambah pemandangannya yang kurang bagus. Sungguh sangat tidak asyik, mungkin lain kali kita coba jalur lewat Lumajang-Jember yang banyak melewati kaki Gunung Raung, Jatim.
- lanjut ke pelabuhan penyebrangan Ketapang di Banyuwangi tiba pukul 10:51
.png)
Lokasi beli tiket kapal laut untuk nyebrang ke Bali. Kios tiket persis samping Indomaret.
Biaya tiket penyebrangan kapa Ferry sebesar Rp 1,2 juta untuk satu mobil pribadi beserta penumpangnya. dengan lama perjalanan sekitar 2 jam.

Masuk ke kapal laut di Pelabuhan Ketapang, banyuwangi

Suasana laut dari dalam kapal Ferry

Kapal-kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi

Karena kesulitan naik ke lantai dua (lantai penumpang) maka istri terpaksa di lantai satu parkiran mobil

Pelabuhan Ketapang
















Tiba di Bali keluar dari kapal laut menuju Pelabuhan Gilimanuk. Tiba di Bali di pelabuhan Gilimanuk siang hari, lalu sholat zhuhur dan mandi (berbayar Rp 5.000,-) di masjid besar Al Mubarok di jalan Gilimanuk - Cekik (tidak jauh dari pelabuhan).
Masjid yang besar dan bersih dengan beragam pelayanan. Kamar mandi yang besar dan air yang berlimpah, walau kondisi kamar mandinya tidak baru.
2 malam 3 hari di Bali
Lalu ke Utara menuju pemandian air panas
Banyuwedang di pinggir jalan Singaraja banyak terdapat monyet-monyet.
Sejenak di pemandian ini saya berendam air panas untuk menghilangkan rasa lelah dan pegal-pegal setelah menyetir seharian.
Jalan raya menuju Banyuwedang ke utara Bali
Satu pojok suasana di pemandian air panas Banyuwedang
Pemandian air panas Banyuwedang, Bali
Share loc
Pure samping pemandian Banyuwedang
Perjalanan berlanjut lagi menyusuri jalan di pantai utara Bali
Selepas dari Banyuwedang di Jalan Cekik - Seririt, Bali Utara
Terus menyusuri pantai utara Bali hingga
Singaraja, singgah di
Pura Tirta Pulaki yang banyak monyetnya.

Pure . . . . di jalan . . . . yang cukup banyak monyetnya
Lalu ketengah menuju Danau Beratan tempat wisata Pura Ulundanu hingga malam mencoba istirahat di Indomaret dekat Ulundanu tapi tutup jam 22:00 terpaksa mencari lagi lokasi bermalam hingga akhirnya harus mencari tempat bermalam di SPBU hingga ke selatan Bali tepatnya di jalan Raya Kapal SPBU 54.803.08 (ini malam pertama di Bali)
Alhamdulillah ternayata cukup mendukung SPBU ini, karena banyak juga mobil dan truk yg bermalam di sini. Suasana hujan semalaman hingga subuh membuat kami tidur nyenyak tanpa menggunakan AC mobil seperti biasanya, dengan membuka sedikit kaca jendela samping (yang sudah kami tutup dari hordeng kertas hitam) karena udara cukup dingin.
Hunting foto dulu di sisi jalan Baturiti Bedugul tepatnya di Portofino pizeria & cafe kebetulan ada view yang menarik dari silhuet Pura di seberang jalan saat mentari mau muncul. Perjalanan kembali ke Ulundanu seteah bermalam di SPBU di sekitaran Denpasar.

Pura di tepi jalan Baturiti Bedugul
Paginya kita kembali lagi ke Ulundanu namun tempat wisatanya belum buka, karena kami tiba jam 6:30 pagi waktu setempat. Kami mencoba menelusuri lokasi sekitar Ulundanu tepatnya di atas Danau Buyan menunggu hingga jam 9 pagi dengan hunting foto di sini.

Jalan Pancasari - Baturiti, lokasi banyak terdapat monyet-monyet bisa kita kasih makan

Nampak di bawah Danau Buyan, Bali dari posisi jalan Pancasari - Baturiti

Lokasi warung baso di posisi jalan Wanagiri, tepat di atas Danau Buyan

Nampak dikejauhan vila-vila penginapan di tepi Danau Buyan

Warung jajanan di jalan Wanagiri, Bali
Kami masuk ke lokasi wisata Ulundanu di Danau Beratan hingga siang hari
Sorenya kita menuju ke Tanah Lot hunting foto di sana dan terus kerkunung ke tempat kost murid sudio RSRZ di Denpasar. Sejenak setelah itu kita mencari tempat bermalam hotel pertamina alias di SPBU . . . . . (malam ke-2 di Bali)
Bermalam di hotel Pertamina gratis alias di SPBU . . . .
Paginya kita lanjutkan lagi ke Pantai Melasti Ungasan di Selatan Bali, menyusuri keindahan pantai, bukit batu, bangunan hotel hingga menanti sore di sini untuk menyaksikan pertunjukkan tari kecak yang sangat sensasional di sini hingga malam hari.
Menu sarapan pagi dengan bubur ayam Jakarta di jalan
Tarif masuk kawasan pantai Melasti Ungasan yang sangat murah sekali
Tempat wisata dengan parkiran mobil yang sangat luas sekali ada di sebelah kanan
Pantai Melasti Ungaran dibangun dengan membelah, memotong dan menata bukit cadas besar yang keras emjadi tempat wisata yang manarik an ekstrim.
Jalan-jalan dibangun dari memotong bukit
Salah satu lokasi di sekitar pantai Melasti Ungaran yang masih dalam tahap pembangunan
Birunya langit dan pantai
Tangga menuju tempat pertunjukkan tari Kecak
Beberapa fasilitas di sekitar lokasi pantai Melasti Ungaran sangat lengkap sekali, ada landasan helikopter segala, tapi saat kami singgah di sini masih dalam tahap pembangunan semua fasilitas yang ada.
Saat-saat pertunjukkan tari Kecak akan dimulai
Pemandangan ke panggung tari Kecak di pantai Melasti Ungaran, yang dilatar belakannya teat posisi tenggelamnya mentari
2 malam 3 hari di Lombok
Selanjutnya perjalan malam langsung menuju pelabuhan Padang Bai untuk menyebrang ke pulau Lombok dengan biaya Rp 1,2 juta untuk mobil pribadi berikut penumpang 1 orang.
Memasuki kapal laut menuju Pelabuhan Lembar, Lombak
Suasana dalam parkiran kapal lautKapal mulai berangkat pukul 00:00 menuju Lombok dan tiba sekitar jam 06:00 pagi. Dan indahnya suasana subuh hingga pagi di tengah laut dekat pelabuhan Lembar, Lombok.
Karena tidak mampu menaiki tangga yg curam maka terpaksa tidur di mobil dg menyalakan AC hingga tiba di pelabuhan Lembar, Lombok
Tiba di Lombok istirahat, mandi, dan sholat di masjid Jami Baital Aman dekat pelabuhan Lembar. Masjid yang bersih serta kamar mandi yag terjaga baik dan halaman yang luas bisa parkir mobil.
Mandi, bebersih serta sholat dhuha di sini yang sangat nyaman.
Sarapan pagi dulu di sini dengan membeli makanan di sekitar pelabuhan dan masjid dengan menu nasi, sayuir buncis wortel, sate ikan dan tempe orek yang serba Rp 20 ribu.
Istirahat sejanak minum coklat hangat serta mengatur peta di hp mencari lokasi wisata tepi pantai di parkiran Indomaret serta persiapan mencari informasi jadwal kapal laut untuk pulang nanti yang rencananya mau pakai kapal alut dari Lombok langsung ke Surabaya dengan menanyakan penjaga loket tiket kapal laut di samping Indomaret.
Dilanjutkan perjalanan menuju Sekotong menyusuri pantai dan mencari tempat wisata. Sempat membeli micro SD + adapternya 2 buah berkapasitas 32 GB untuk kamera, karena sd card kamera sudah penuh dan kami lupa membawa kabel data yg menghubungkan kamera ke laptop.
Kami mencari Beachcamp Lombok di google, tapi tidak ketemu sampai kami tersesat di sini, sehigga harus putar balik karena jalan tanah dan cukup sempit jadi kami gak yakin ini jalannya dan terus mencari tempat yang lainnya hingga ketemu dan mampir di Pantai Elak-elak, istirahat berfoto serta berbincang-bincang dg penduduk setempat.
Suasana pantai Elak-elak beserta keindahannya.
Bentuk kubah masjid di Lombok yang khas seperti bentuk buah Salak
Nampak dibelakang Pulau Gili Genting
Nampak dibelakang Pulau Gili Poh Light Stand
Masjid di Lombok ada dimana-mana selalu besar-besar dan sayang sebagian besar pembangunannya belum rampung (terbengkalai)
Perahu nelayan dengan latar pulau Gili Genting
Nampak dikejauhan pulau Gili Poh
Coba mencari pantai yang lainnya lagi hingga menjauh ke selatan, tapi kami batalkan karena ternayata bensin mobil sudah tinggal seperempat tapi kami belum menemukan pon bensin sehingga kami putuskan untuk kembali lagi ke Lembar.
Lalu kami lanjutkan ke Kota Mataram mencoba mencari kabel data kamera hingga ke mall tapi tidak mendapatkannya, sehingga malamnya kami coba makan malam di Cafe sambil mencharge power bank dan mencoba menulis sedikit di blog catatan perjalan ini di cafe.
Menu makan malam kami di sini: stick sapi bumbu jamur dan double stick ayam krispi dengan minuman Squash Strawberry dan Jambu.
Elemen estetis Cafe di Mataram, Lombok. Bulan peurnamaKembali ke arah bawah (ke Lembar dan mencoba mencari SPBU untuk tempat mobi kami bermalam pertama di Lombok di posisi ini . . . . .
Bermalam yang tidak sesuai harapan kami, yang kami kira bisa bermalam di masjid-masjid besar dan megah yang banyak tersebar di Lombok. Tapi sayang hampir semua masjid arsitekturnya menggunakan pagar sempit dan selalu terkunci sehingga kami sebagai pengunjung cukup kesulitan untuk bisa beristirahat di masjid dikarenakan masjid hanya buka saat sholat-sholat fardhu saja. Apalagi kami yang berpetualang menggunakan mobil tidak mungkin bisa masuk mobilnya.
Contoh saja ketika kami sholat zhuhur di Sekotong, masjid yang kita singgahi belum selesai pembangunannya dan terkunci ruang sholat utamanyanya, sehingga kam sholat di pinggiran masjid. Kamar mandi yang kotor tidak terawat serta gelap tanpa lampu penerangan.
Paginya kita lanjutkan mencari pantai Pink di Timur Pulau Lombok mencoba mengejar matahri terbit tapi sayang perjalanan ternyata kurang mulus hingga kami sempat nyasar ke bukit perkebunan jagung, tapi kami tidak berani menuju ke bibir pantai karena curam dan jalan tanahnya yang licin. kami hanya bisa merekam foto dan video saja sebagai dokumentasi perjalan kami bahwa kami pernah sampai di ujung Timut pulau Lombok.
Di sini terjadi peristiwa kenangan tragedi mules di hamparan kebun jagung yang setangah kelilingnya adalah pantai yang inah.
Kita terus mencari pantai yang kita tuju yaitu panyai Pink 2 yang ternayata jalannya cukup sulit sulit karena jalan tanah perkebunan, walau akhirnya sampai juga di Pantai Pink 2 ini.
Disambut nelayan yang menawarkan paket keliling laut dan snorkling di beberapa titik, kamipun menyetuji dengan biaya 400 ribu.
Berfoto, berenag, snorkling, serta makan siang di pantai Pink 1dg menu ikan bakar + cumi bakar + tumis kangkung + minumnya kelapa muda
Pantai pink yang sangat indah dan penuh perjuangan menuju ke lokasinya.
Kembali ke Lombak tengah lalu menuju Mandalika dan kami bermalam ke-2 di Lombok di SPBU persis di depan sirkuit Mandalika. walau kami sempat mencari tempat menginap tapi penuh dan kurang sreg juga, terpaksa bermalam di hotel pertamina seperti biasanya.
paginya kita lanjut ke pantai Kuta, ke pantai mandalika tapi masih pagi dan hanya sejenak lalu kami lanjutnya mencari tempat lain yg lebih bagus dan akgirnya kami ke Bukit Marese.
Menyewa motor serta mendidikan tenda di bukit Marese sebagai properti foto-oto saja.
Lanjut lagi siangnya sebelum jumatan ke pantai Tanjung Aan di sebelahnya dan saat itu kondisinya sepi dan panasnya bukan main.
Kami melanjutkan perjalanan petualang kakek-nenek kawa ini menuju Lembar dan berniat memesan kapal untuk menuju Surabaya.
21 jam di kapal DNS Batu Layar Lombok menuju Surabaya
- - - - - - - - -
Tulisan belum selesai seua masih disusun terus
Catatan bahan tulisan:
Persiapan untuk kendaraan
- service semua kaki-kakinya dg kondisi ban masih bagus dan satu ban baru. kaki kanan depan sudah diganti lahernya
- Master rem belakang sudah diganti keduanya karena sebelumnya bocor
- Sertvice tune up lengkap, ganti busi, ganti belt
- colokan rokok diganti baru sebagai sumber energi buat Hp selama diperjalanan
- spooring dan balancing
- pasang dashcamp 3 titik kamera sebagai antisipasi kondisi saat di jalan
- ganti cover lampu depan yg sudah mulai menguning dg tukar tambah yg masih bagus
- pasang central lock dan alarm
- download aplikasi pertamina untuk dapat QR Code bensin
Selama perjalanan kami menggyunkan bensin pertalite dan sekali isi pertamax karena saat itu pertalite habis.
Biaya tiket kapal DNS Batu Layar total 2.105.00,- untuk satu supir dan mobil + satu penumpang menuju Pelabuhan tanjung Perak Surabaya. Perjalan kapal ini memakan waktu 21 jam perjalanan dan kami tiba di Surabaya pukul
01:00 malam.
Istirahat sejenak ke indomaret membeli perpekalan untuk pulang dan langsung menuju tol trans Jawa.
Malam ini kami bermalam di SPBU rest area di jalan tol tepatnya di rest area Perak km 678.
Paginya lanjut lagi dan sempat memasak air untuk ngeteh dan sarapan di pinggir jalan tol di km 665.
Lanjut lagi menuju Jogya, mencari tempat wisata pantai dan kita ke parangtritis menuju Bukit Paralayang mulai dari pagi hingga siang
Sempat cari makan pagi dan kami putuskan makan di rumah makan Wedangan Josawah yang cukup asri.
Pulang dari Bukit Paralayang langsung menuju pintu Tol di Klaten malam baru masuk pintu tol dan kami langsung menuju ke Jatiwangi
Di Jatiwangi kami bermalam dan paginya lanjt pulang ke Pamulang, tiba di Pamulang sebelum Zhuhur hari Selasa, 13 januari 2025 dan start kami Sabtu Pagi 4 Januari 2025 jam 7 pagi.
Naik kapal laut:
Ketapang - Gilimanuk Rp 220 ribu (mobil dengan 2 orang)
Padang bai - Lembar Rp 1,2 juta (mobil dengan 2 orang)
Lembar - Surabaya 2.105.000,- (mobil dengan 2 orang)
Bahan bakar:
isi bensin di pondok petir Rp 380 ribu
isi ke-2 di Bali (Kuta) .. . Rp 240 ribu (pertamax)
isi ke 3 di km ... Rp 330 ribu (isi penuh)
isi di Lembar, Lombok Rp 200 ribu
Biaya tol pp sekitar 2 juta
Biaya bensin pp sekitar 1,8 juta
Nonton tarik kecak 300 ribu berdua
Sewa perahu di pantai Pink 2 Lombok 400 ribu
Catatan di Bali:
- Makanan halal cukup sulit terutama di daerah-daerah terpencil
- Bermalam di SPBU lumayan nyaman walau tak banyak jumlahnya
- harga penginapan mahal-mahal
- harga makanan mahal-mahal
- warung padang sulit sekali
Catatan di Lombok:
- Banyak masjid sehingga dijuluki negeri seribu masjid, tapi masjid-masjidnya sebagian besar2 masih belum selesai pembangunannya dan desainya semua mirip-mirip, berpagar tapi masjidnya tidak buka 24 jam, alias terkunci di luar jam sholat, sehingga kami kesulitan jika ingin bermalam di masjid, padahal masjid banyak. Termasuk ketika sholat tempatnya ya di pinggiran masjid tidak bisa masuk karena dikunci masjidnya.
- Makanan di Lombok hampir semua tak bersayur, menunya tak menarik hanya seputar tempe orek, goreng ayam dan itu-itu saja hampir di semua tempat. Tapi nasinya pulen.
Persiapan mobil:
- Service paket lengkap tune up, pasang shock belakang, ganti belt, pasang korek api mobil, cek kaki-kaki total ---> 4 juta
- Beli 1 ban pengganti yg sudah botak ---> 400 ribu
- Tukar tambah lampu ---> 1 juta
- Beli dashcam ---> 1,7 juta
- Pasang central lock dan remote kuncinya 550 ribu